Selasa, 05 Juni 2012

Bab 5 dan 6 struktur produksi distribusi pendapatan dan kemiskinan


1.       PENDAPATAN NASIONAL
Salah satu indikator perekonomian suatu Negara yang sangat penting adalah yang disebut dengan pendapatan nasional. Pendapatan nasional dapat diartikan sebagai suatu angka atau nilai yang menggambarkan seluruh produksi, pengeluaran, ataupun pendapatan yang dihasilkan dari semua pelaku/sector ekonomi dari suatu Negara dalam kurun waktu tertentu.
Pendapatan nasional sering dipergunakan sebagai indicator ekonomi dalam hal :
·         Menentukan laju tingkat perkembangan/pertumbuhan perekonomian suatu Negara
·         Mengukur keberhasilan suatu Negara dalam mencapai tujuan pembangunan ekonominya
·         Membandingkan tingkat kesejahteraan masyarakat suatu Negara dengan Negara lainnya.
Meskipun demikian tidak semua ahli ekonomi setuju jika hanya pendapatan perkapita saja yang dijadikan ukuran kemakmuran dan kesejahteraan suatu Negara. Adapun kritik tersebut diantaranya adalah :
·         Ada factor-faktor lain di luar pendapatan yang akan berpengaruh pada tingkat kemakmuran dan kesejahteraan
·         Kesejahteraan masyarakat masih sering brersifat subjektif. Tiap orang mempunyai pandangan hidup yang berbeda sehingga tolak ukur kesejahteraannya pun berbeda
Beberapa tokoh ekonomiyang memberikan masukan terhadap ukuran-ukuran kemakmuran dan kesejahteraan diantaranya adalah :
Dudley Seers  mengemukakan, bahwa paling tidak ada 3 masalah pokok yang perlu di perhatikan dalam mengukur tingkat pembangunan suatu Negara.
3 masalah tersebut adalah :
·         Tingkat kemiskinan
·         Tingkat pengangguran
·         Tingkat ketimpangan di berbagai bidang
J.L Tamba, berpendapat bahwa ada 4 hal sebagai dasar untuk mengukur perekonomian dan kemakmuran di Indonesia. 4 hal tersebut adalah :
                                        1. kesehatan dan keamanan
                                        2. Pendidikan keahlian dan Standard Hidup
                                        3. Pendapatan
                                        4. Pemukiman
                                       
                Hendra Esmara, lebih memilih 3 komponen yang ia anggap perlu di perhatikan dalam rangka mengukur kemakmuran dan kesejahteraan suatu Negara, yakni :
1.       Penduduk dan kesempatan Kerja
2.       Pertumbuhan Ekonomi
3.       Pemerataan dan Kesejahteraan Masyarakat
                Untuk mendapatkan nilai atau angka indicator tersebut digunakan tiga pendekatan perhitungan, yakni :
a.       Pendekatan produksi
b.      Pendekatan pengeluaran
c.       Pendekatan pendapatan
Sedangkan konsep perhitungan yang dipergunakan adalah :
a.       Konsep kewarganegaraa, dan
b.      Konsep kewilayahan
                                Menghitung pendapatan nasional Indonesia dengan pendekatan produks ( GDP )
                GDP (Gross Domestic Product ) atau Produksi Domestik Bruto adalah pendapatan nasional yang nilainya dihitung dengan cara menjumlahkan seluruh kegiatan produksi yang dilakukan oleh semua pelaku/sector ekonomi di wilayah Indonesia, dalam kurun waktu tertentu.
                Yang perlu diingat dalam perhitungan tersebut, jangan sampai terjadi perhitungan ganda (double counting) yang dapat menyebabkan pendapatan nasional (GDP) Indonesia tampak lebih besar. Salah satu akibatnya adalah, seolah-olah Negara Indonesia sudah cukup maju dan makmur (terlihat dari GDP yang tampak besar), sehingga bantuan luar negeri akan diaihkan ke daerah lain yang lebih membutuhkan. Dengan demikian kita akan kehilangan kesempatan mendapatkan tambahan dana pembangunan, sedangkan kita sesungguhnya masih sangat membutuhkannya.
                Untuk menghindari kesalahan perhitungan ganda tersebut dapat digunakan salah satu dari dua cara dibawah ini.
                Pertama, GDP hanya dihitung dari nilai akhir suatu produk saja, misalnya untuk industry otomotif, hasil akhirnya saja (mobil) yang akan dihitung.
Contoh ilustrasinya adalah :
·         Produsen  I         : petani gandum, produksinya dinilai Rp 200,-/satuan tertentu
·         Produsen  II        : pabrik tepung terigu, produksinya bernilai Rp 500,-/satuan             tertentu
·         Produsen  III      : pabrik roti, produksinya dinilai Rp 750,-/ satuan tertentu
        Dari ilustrasi sederhana di atas, maka pendapatan nasional (GDP) Indonesia adalah sebesar Rp 750,- yakni hanya menilai hasil akhirnya saja. Karena nilai roti seharga Rp 750,- tersebut telah terkandung unsur gandum dan tepung terigu. Yang dimaksud dengan perhitungan ganda adalah dengan menganggap bahwa pendapatan nasional (GDP) Indonesia adalah sebesar Rp 1.450,- (200 + 500 + 750). Sehingga hasil sebesar Rp 1.450,- sangat menyesatkan, dan tidak menggambarkan keadaan sesungguhnya.
        Kedua, dengan menjumlahkan nilai tambah dari masing-masing komoditi yang dihasilkan oleh masing-masing produsen, sehingga jika kita gunakan ilustrasi di atas, maka pendapatan nasional (GDP) Indonesia dengan cara ini akan menghasilkan jumlah yang sama.
v  Produsen I petani gamdum, produksinya dinilai Rp 200,-/ satuan tertentu, karena sebelumnya tidak ada produksi, kemudian ada produksi gandum senilai Rp 200,- , maka ada nilai tambah sebesar Rp 200,-
v  Produsen II pabrik tepung terigu, produksinya bernilai Rp 500,-/ satuan tertentu, dari bahan baku gandum yang hanya seharga Rp 200,- menjadi tepung terigu dengan harga Rp 500,- berarti ada nilai tambah sebesar Rp 300,-
v  Produsen III pabrik roti, produksinya dinilai Rp 750,- satuan tertentu, setelah tepung terigu diolah oleh pabrik roti menjadi roti, maka terdapat nilai tambah senilai Rp 250,-

        Dari ilustrasi di atas, jika kita akumulasi maka total nilai tambah dari masing-masing komoditi (gandum, tepung, roti) tersebut adalah sebesar Rp 750,- (200 + 300 + 250), dimana angka ini sama besarnya dengan pendapatan nasional (GDP) Indonesia jika dihitung dengan cara yang pertama.
        Sebagai catatan, Gross Domestic Product ini diperoleh dengan menggunakan konsep kewilayahan , artinya nilai prduksi tersebut dipeoleh dari semua pelaku ekonomi yang melaksanakan kegiatan produksinya di wilayah Indonesia saja, tidak dilihat apakah dia berwarganegara Indonesia atau wrga Negara asing.
        Menghitung Pendapatan Nasional Indonesia dengan Pnedekatan Pengeluaran ( GNP )
        GNP (Gross National Product ) adalah pendapatan nasional yang nilainya diperoleh dengan cara menjumlahkan seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh semua pelaku/sector ekonomi di Indonesia, yang berwarga Negara Indonesia, dalam kurun waktu tertentu. Cara memperoleh nilai GNP ini sangat berbeda dengan cara memperoleh GDP, jika GDP dibatasi oleh wilayah, maka GNP dibatasi oleh kewarganegaraan, karena konsep yang dipergunakannya adalah konsep kewarganegaraan, artinya nilai pengeluaran tersebut dihitung dari pelaku ekonomi yang berkewarganegaraan Indonesia saja.
Ilustrasi perhitungannya adalah :

Pengeluaran dari sector rumah tangga (untuk konsumsi )                     XXX
Pengeluaran dari sector swasta  (untuk investasi )                                    XXX
Pengeluaran pemerintah ( government expenditure)                            XXX
Sector luar negeri/Eksport netto (ekspor-impor)                                       (XXX)
                                                                                                                                                                     +
        Pendapatan nasional (GNP) Indonesia adalah                                     XXX

        Menghitung Pendapatan Nasional Indonesia dengan Pendekatan Pendapatan (NI)
        NI (national Income ) adalah pendapatan nasional yang nilainya di dapat dengan cara menjumlahkan semua hasil/pendapatan yang diperleh semua pelaku/sector ekonomi di Indonesia dalam kururn waktu tertentu. Nilai NI inilah yang tampaknya oleh kalangan akademisi dinotasikan dengan Y.
Ilustrasi sedehana dari perhitungan NI ini adalah :
        Pendapatan dari sector rumah tangga berupa gaji/upah                                XXX
        Pendapatan dari sector swasta laba, misalnya                                     XXX
        Pendapatan pemerintah                                                                              XXX
        Pendapatan sector luar negeri, devisa misalnya                                 XXX
        Pendapatan Nasional Indonesia                                                                                XXX

        Pertanyaan yang kemudian mungkin muncul adalah ‘pendapatan nasional yang manakah yang sebaiknya dipergunakan, GDP., GNP, ataukah NI ?’ secara prinsip ketiga jenis pendapatan nasional tersebut dapat menghasilkan nilai yang sama, tentu saja dengan sedikit penyesuaian. Penyesuaian-penyesuaian tersebut dianataranya adalah :
        Agar pendapatan nasional (GNP) nilainya sama dengan GDP, maka GNP tersebut harus dikurangi terlebih dahulu dengan apa yang disebut dengan ‘pendapatan netto luar negeri dan factor produksi’. Yang dimaksud dengan pendapatan netto luar negeri dan factor produksi ialah selisih antara penerimaan sumber daya Indonesia yang bekerja dinegara lain dengan pengeluaran Negara indonesia untuk orang asing yang bekerja di Indonesia. Dan bila di lihat dari neraca jasa Indonesia , masih menunjukkan nilai yang negative (deficit). Hal ini perlu dilakukan mengingat dasar perhitungan kedua jenis pendapat nasional tersebut diperoleh dengan pendekatan dan konsep perhitungan yang berbeda (kewarganegaraan dan kewilayahan). Dengan demikian jika dituliskan dalam bentuk formula adalah :
·         GDP =GNP – pendapatan netto luar negeri terhadap factor produksi
·         GDP = GNP – ( penerimaan f.produksi WNI di LN – Penerimaan f.prod WNA di Indonesia
        Sedangkan untuk menyesuaikan kedua jenis pendapatan nasional tersebut dengan NI, diperlukan formulasi sebagai berikut :
·         NI = GNP – Depresiasi – Tx tak langsung, dimana GNP – Depresiasi sendiri sering disebut dengan NNP (Net National Product) atau Produksi Nasional Bersih
·         NI = GDP – Depresiasi – Tx tak langsung, dimana GDP – Depresiasi sendiri sering disebut dengan NDP (Net Domistic Product) atau Produksi Domestik Bersih

Disamping ketiga istilah pendapatan nasional tersebut (GDP, GNP, NI) tersebut , masih ada beberapa istilah yang berkaitan dengan pendapatan nasional, yakni :

                                        Pendapatan nasional yang siap dibelanjakan ( Y disposable)
        Yang dimaksud dengan pendapatan nasional ( Y ) disposable adalah pendapatan nasional yang telah siap untuk dibelanjakan. Nilai Y disposable ini berasal dari NI (National Income ) setelah ditambah dengan pengeluaran pemerintah berupa transfer / subsidi dan kemudian dikurangi dengan pajak langsung yang ditetapkan pemerintah. Jika ditulis dalam formula, nilainya diperoleh dari :
Y disposable = NI + Tr – Tx langsung, dimana
        Tr = Government Transfer, subsidi pemerintah
        Tx = Pajak langsung
                                        Y pribadi
        Pendapatan nasional pribadi adalah pendapatan nasional disposable yang telah dikurangi dengan pajak pribadi, dihitung dengan formula :
        Yp = Yd – Tx pribadi, dimana :
        Yp = Pendapatan nasional pribadi
        Yd = Pendapatan nasional disposable

PENDAPATAN NASIONAL PER KAPITA
        Pendapatan per kapita/tahun biasanya digunakan sebagai salah satu indicator akhir dalam melihat kemajuan pertumbuhan perekonomian suatu Negara. Pendapatan per kapita ini diperoleh dengan membagi pendapatan nasional ( GNP atau GDP ) dengan jumlah penduduk di suatu Negara ( Indonesia )

B. KEMISKINAN
        Salah satu masalah yang cukup mendesak untuk diatasi oleh suatu Negara adalah masalah kemiskinan. Untuk itulah ekonomi Indonesia memiliki trilogy Pembangunan yang didalamnya ada poin pemerataan. Meskipun sampai dengan saat ini rakyat tang masih hidup dalam kemiskinan masih cukup besar (+/- dari 100 orang Indonesia, 11-12 orang diantaranya masih miskin ), namun upaya untuk mengentaskan mereka terus diupayakan. Beberapa diantaranya adalah dengan program IDT (Inpres Desa Tertinggal ) dan kemitraan pengusaha besar dan pengusaha kecil yang dicanangkan oleh pemerintah.
        Berikut ini adalah beberapa kriteria garis kemiskinan di Indonesia yang dikemukakan oleh beberapa ahli, yakni :



peneliti
Kriteria
Garis
kemiskinan


kota
desa
Kota +
desa
Esmara
1969/70.1
Konsumsi beras per
Kapita/th (kg)


125
Sayogya 1971.1
Tingkat pengeluaran ekuivalen
Beras per orang/th (kg)
Miskin
Miskin sekali
Paling miskin


480
360
270


320
240
180



Ginneken 1969,1
Kebutuhan gizi minimum per orang/hari
Kalon
Protein ( gram


2000
50

Anne booth
1969/70.1
Kebutuhan gizi min./orang/hari
Kalori protein
2000
40


Gupta
1973,1
Kebutuhan gizi min.orang/hari (Rp)


24000
Hasan 1975,1
Pendapatan minimum/kapita/th (US $)
125
95

BPS
1984,2
1 konsumsi kalori per kapita/hari
2 pengeluaran per kapita/bln (Rp)

13.731

7.746

2.100

Sayogya 1984,2
Pengeluaran/kapita/bulan (Rp)
8.240
6.585

Bank Dunia
1984,2
Pengeluaran/kapita/bulan
6.719
4.479

Grs. Kemisk.
Internasional
1 interim rpt 1976,2

2 ahluwalia
1975.3


Pendapatan/kapita/tahun
Nilai US $ 1970
US $ pantas daya beli
Tingkat pendapatan/kapita/th (US $)




75
200
50
75

                                                Sumber :
1.       Henra esmara (1986 ) perencanaan dan pembangunan di Indonesia gramedia
2.       Kompas . senin 9 mei 1988
3.       Montek s ahluwalia (1974) income inequalitysome dimension of the problem dalam holis chenery redistribution with growth (London university press 1974 ) hlm 6-10, seperti dikutip oleh soemitro djojohadikusumo dalam prisma no.2 tahun IV (april 1975) hal. 24
                                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar